Balada Bidadari

Judul Buku: Balada Bidadari
Pengarang: Yuditeha
Penerbit: Kompas
Terbit: Cetakan I (2016)
ISBN: 978-602-412-161-7
Tebal : 134 halaman
Genre: Romance (Kumpulan Cerpen)

Pertama kali melihat buku Balada Bidadari ini di Giant, toko retail yang menyediakan berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Di tengah-tengah rak alat tulis ada tumpukan buku-buku 'usang' yang dibandrol dengan harga dibawah harga pasaran. Sekitar 10-50 ribu an. Awalnya tidak tertarik dengan tumpukan buku itu karena yakin itu pasti tumpukan novel genre romance unyu-unyu atau buku resep masak, karena sebelumnya setiap kesini aku menemukan buku genre romance unyu. Kebetulan aku tidak terlalu suka novel genre pure romance dan belum ada niat untuk menekuni dunia masak-memasak.

Tapi rasa penasaranku lebih kuat daripada keyakinanku-yang ternyata salah itu-, penasaran kenapa buku-buku ini dijual begitu murah? Apa karna tidak laku? Mungkin saja ada buku yang menarik minatku. Setelah ngorek-ngorek tumpukan buku itu sampai ke dasar  akhirnya aku menemukan buku ini. 

Di antara buku lainnya, cover buku inilah yang menarik perhatian. Simple tapi menarik. Barulah, aku baca sinopsis di cover belakang. Semakin mantaplah ingin bawa pulang buku ini! yang paling bikin senang adalah harganya cuma sepuluh ribu! Ini seperti menemukan emas ditumpukan batu-bata. Tanpa pikir panjang aku beli buku ini bersamaan dengan buku human interest photography-nya Wilsen Way.

Sebelum aku mereview bukunya, aku search dulu. Siapa Yuditeha? Yuditeha, seorang penyair, penulis cerpen dan novel. Dalam tulisan di blog pribadinya beliau menulis :

"..yang mendasari seseorang berkeputusan untuk tetap konsisten menulis hingga menjelang matinya adalah jatuh cinta--pada dunia literasi. Tanpa adanya jatuh cinta terhadap dunia tulis menulis, keinginan menulis sampai mati itu merupakan hal yang mustahil. Jatuh cinta ini menjelaskan bahwa menulis telah menjadi sukma bagi sebuah keinginan yang dalam realitanya sulit untuk dikonsisteni." 

Buku Balada Bidadari adalah kumpulan cerpen yang berkaitan dengan cinta. Beliau menguraikan jenis-jenis cinta dengan bermacam-macam kisah dan rasa. Yang aku tangkap dari buku ini, cinta itu abstrak. Relatif. Tergantung si empu pemilik rasa. Tapi, tentu saja cinta tak melulu berkutat pada rasa-rasa yang timbul antar lawan jenis. Cinta bisa pada siapa dan apa saja. Pada kucing misal? atau pada hal-hal yang mudah dilupakan, diri sendiri, semesta, tumbuhan atau Tuhan? Apa saja lah!

Ada sebuah kalimat yang pernah aku baca, begini : 

"Pada masa tertentu orang akan bilang: cinta telah datang. Sesungguhnya cinta itu sudah ada. Dia telah dititipkan pada setiap janin, pun juga deritanya."

Aku sendiri mengartikan cinta itu adalah hidup dan hidup adalah cinta yang sudah sepaket dengan derita, bahagia, sedih dan rasa-rasa lainnya.

Buku ini mengenalkan makna cinta melalui cerita. Tak hanya itu, asyiknya Yuditeha berhasil menceritakan kembali dongeng rakyat Sangkuriang dengan narasi berbeda dalam bab Lelaki Sampan (hal. 7) dan kisah Jaka Tarub dalam bab Balada bidadari (hal. 46). 

Dalam bukunya juga berisi kalau Cinta bisa berarti sebuah tragedi gila seperti yang tersirat di cerita Kundana dan Amori. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun, Kundana hanyalah buruh kapal sehingga Amori yang notabenenya adalah anak jugaran kapal dijodohkan dengan Darios, anak juragan kapal juga, anak tunggal Brokot yang dulunya adalah musuh Bapak Amori. Mereka berdua membuat rencana agar perjodohan itu batal dengan cara Amori berpura-pura gila. Malangnya, pada akhir cerita Amori dianggap benar-benar gila oleh orang-orang desa. Cerita ini disampaikan di bab Kesepakatan Gila (hal. 1) dan dilanjutkan di Kesepakatan Gila 2 (hal. 123) dengan ending yang tak terduga.

Antologi yang begitu menarik untukku adalah Puisi Requiem (hal. 69). Ternyata sinopsis dibelakang cover buku Balada Bidadari yang aku baca sebelum memutuskan membeli buku ini adalah sepenggal cerita yang diambil dari dialog di bab Puisi Requiem

Requiem dari bahasa latin yang artinya istirahat (kekal)--umat Katolik biasa menyanyikan Requiem sebagai lagu pembuka ketika ikut serta dalam Misa Requiem (Misa Kematian). Aku memaknai bahwa kematian tidak jauh dengan kehilangan. Bab ini pun menghadirkan nuansa yang dekat dengan kehilangan. Entah kenapa seolah-olah aku sudah akrab dengan kehilangan, seperti teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Tapi bagiku hidup memang begitu, orang datang dan pergi. Termasuk aku kan? tiba-tiba datang ke dunia ini, nanti tidak lama juga akan hilang. Waktu yang kita miliki hanya sedetik jika dibandingkan dengan umur jagad raya. Datang, mampir sebentar, lalu pergi lagi. Hilang.

Ketika membaca bab Puisi Requiem, dari ponsel pintar, kebetulan Tom Keifer (Vokalis band Cinderella) sedang melantunkan Heartbreak Station dengan iringan gitar akustik--lagu yang juga bercerita tentang cinta dan kehilangan itu--semakin melengkapi emosi yang timbul. Lagi-lagi aku sentimentil. Tanpa bermaksud meromantisasi, perpaduan buku dan iringan lagu ini seolah memanduku untuk menerima dengan lapang semua emosi yang timbul sebagai bagian dari diri manusia seutuhnya. Selamat membaca dan merasa!

Komentar

Postingan Populer