Sekolah itu Candu
Buku Sekolah itu Candu ditulis oleh Roem Topatimasang mencoba mendobrak perspektif sekolah yang kaku. Buku ini bercerita setitik sejarah sekolah dan mengkritisi kurikulum sekolah masa kini yang jauh dari kehidupan alam.
Tidak cuma senja dan kopi yang bikin candu, tanpa disadari sekolah juga ternyata mengakibatkan candu yang turun temurun. Lama-lama sekolah menjadi kebutuhan dan hak manusia sebagai makhluk yang berpikir. Namun, bagaimanapun juga harus tetap bayar dan sialnya mahal!
Aku ingin curhat sebentar..
Tahun ini aku sudah mulai masuk kuliah. Otomatis aku dapat gelar Maha siswi, agent of change. Give a voice to a voiceless. Diharapkan bisa jadi penyambung lidah masyarakat, pengawas kerja pemerintah, menciptakan inovasi-inovasi, dll.
Tapi aku tidak percaya diri bisa melakukan semua itu, cukup bagiku yang cupu ini kuliah untuk dapat bersosialisasi dengan orang dan mempelajari materi yang aku senangi. Aku relakan 30% dari gajiku untuk kamu, kuliah :') Meski nanti setelah lulus, aku masih tidak tau ingin bagaimana.. Aku belum memikirkan karir yang ingin aku ambil atau pekerjaan impian. Aku cukup yakin pada waktu dan peristiwa yang ada dihidupku. Titik-titik ini akan membentuk aku jadi aku yang utuh.
Menjadi dewasa adalah menjadi bijak untuk mampu membedakan antara dua hal berbeda yang nampaknya saja mirip atau bahkan sama, tetapi..
Ahaaa..!
Kalian,
Anak-anak laut
yang berumah di laut
bertulang lunas perahu
berurat akar-bakau
bernafas uap garam
kalian telah terlatih
lebih daripada apa yang diajarkan oleh sekolah
untuk mengetahui apa bedanya
antara ombak dengan gelombang
antara arus dengan alir
antara angin dengan badai
antara pertanda dengan kejadian....
Tetaplah seperti itu!
Roem, Kaledupa, 10 Januari 2007
Tidak sekolah,
Tidak apa-apa.
Belajar tidak harus di sekolah.
Hidup sendiri adalah belajar
Bahkan tak harus bayar.
Untuk siapa saja.
Dimana saja,
Kapan pun kamu mau.
Mari belajar untuk kehidupan,
Belajar berpikir,
Belajar merasa,
Belajar memberi,
Belajar mengasihi,
Belajar untuk terus belajar!
Selamat bersekolah di kehidupan.
Aku, Surabaya, September 2020.



Komentar
Posting Komentar