Tuhan Maha Asyik
Judul Buku: Tuhan Maha Asyik
Pengarang: Sujiwo Tejo & Dr. Nur Samad Kamba
Penerbit: Imania
Terbit: Cetakan V (2017)
ISBN: 978-602-7926-29-5
ISBN: 978-602-7926-29-5
Tebal : 245 halaman
Genre: Agama
"Tuhan sangat asyik ketika Dia tidak kita kurung paksa dalam penamaan-penamaan dan pemaknaan-pemaknaan. Dia tak terdefinisikan. Dia tak termaknakan. Dia ada sebelum definisi dan makna ada. Tuhan itu anti mainstream. Tuhan itu Maha Asyik ketika kita mentadabburi-Nya, bukan melogikakan-Nya." - Tulisan di cover belakang buku Tuhan Maha Asyik.
Buku karya Sujiwo Tejo dan Kamba ini menyajikan diskusi melalui dialog sehari-hari oleh beberapa bocah dengan bahasa yang asyik dan ringan. Ditambah disetiap bab ada penjelasan mengenai inti dari dialog mereka. Meski buku ini diceritakan dalam bahasa kanak-kanak menurutku pembahasannya cukup berat. Tak lain dan tak bukan karena tema yang diangkat mengenai makrifat, tauhid, yang membahas tentang Tuhan secara holistik (menyeluruh). Membaca buku Sujiwo dan Kamba memaksaku agar mempertajam pikiran dan jeli memahami setiap kalmatnya. Puyeng.
Membaca buku Tuhan Maha Asyik seakan-akan menyentil keangkuhan dan kedangkalan diri sendiri dalam hal beragama. Dimana buku ini tidak hanya membahas tentang bagaimana kita bersikap sebagai hamba ke Tuhan (vertikal) tapi juga bagaimana sikap kita pada sesama (horizontal). Buku ini mengingatkan kita untuk tidak mengkerdilkan dan mengotak-ngotakkan manusia dalam pikiran diri sendiri yang sejatinya masih penuh keterbatasan ini. Mendobrak pikiranku agar mampu melihat bahwa keberagaman merupakan suatu bentuk kuasa Tuhan. Bahwa sesungguhnya agama apapun merupakan jalan menuju Tuhan.
Toh, kalaupun Tuhan berkenan Dia akan menciptakan satu agama, satu keyakinan, satu warna kulit, dan satu ras saja. Tapi Tuhan membuat kita beragam karena.. karena apa ya Tuhan? Tapi kalau tidak ada perbedaan dan keragaman ya bakalan mandek disana saja. Unsur-unsur dalam air saja ada hidrogen dan oksigen. Logikanya, kalau di dunia ini hanya ada satu unsur saja, mungkin kehidupan tidak akan pernah ada. Kalau kita di dunia hanya memiliki satu keyakinan saja, satu ilmu, satu jenis kelamin, mungkin dunia ini tidak akan lama bakalan mandek, otak kita akan keblock, macet, dan kehidupan punah. Ah, ini cuma kemungkinan yang aku pikirkan sih.
Banyak sekali hal-hal yang dapat menyibukkan kita dan kadang hal itu bisa membuat kita melupakan Tuhan. Iya tidak? kalau tidak ya sudah. Kadang kita cukup bertuhan dengan hanya menerima begitu saja apa yang sudah 'diajarkan' dari jaman bahula, dari mulut ke mulut yang hanya berupa hafalan semata. Mandek disitu dan apa yang kita tau ya itu-itu saja, padahal dunia selalu mengalami perubahan.
Seringkali kebanyakan dari kita disuruh menerima begitu saja tanpa diperbolehkan mempertimbangkan dulu apa yang masuk ke otak kita. Kita hanya disuruh menerima tanpa bertanya. Sehingga beragama kalau aku analogikan--secara gampang--seperti permainan tradisional polisi-polisian, kita beragama A karena kebetulan semata, dimana yang dapat peran jadi penganut agama A ya harus menjalankan agama A tanpa ada atau mau berusaha mempertanyakan dan mengenal agama A, B, C lebih jauh. Sedihnya, mempertanyakan Tuhan dianggap hal tabu bahkan kadang dianggap salah satu jalan pembuka menuju kekafiran. Padahal, bukankah bertanya adalah langkah utama jika ingin mengenal dan memahami sesuatu lebih dalam?
Bab pertama berjudul Wayang. Dibuka dengan Kapitayan yang menjadi dalang Wayang kulit yang sedang berdialog sebagai Arjuna dan Bagong. Dalam dialognya, dia mengumpamakan Tuhan sebagai dalang sedangkan manusia sebagai wayang kulit yang tidak memiliki kehendak bebas. Christine berkeplok-keplok puas dengan jawaban Bagong yang berhasil beradu argumen dengan Arjuna. Sedang Parwati menimpali kalau itu tidak berlaku pada Wayang orang karena Wayang orang masih memiliki kehendak meskipun tetap tidak bisa 'lari' dari alur cerita sang dalang. Aku pikir bab ini mengibaratkan bahwa manusia punya kehendak atas dirinya. TAPI, kita juga tidak bisa menjamin kalau kehendak kita bukan kehendak Tuhan, dan sebaliknya. Karena kita tidak punya atau bahkan memang tidak ada mekanisme yang bisa mengukur aktivitas Tuhan.
Kejadian beberapa tahun terakhir ada beberapa oknum agama sama sekali tidak menampakkan sifat Tuhan yang dianutnya--yang penuh kasih sayang--. Malah sebaliknya, oknum itu menampakkan bahwa beragama justru terasa mengerikan dan menakutkan. Hal ini mungkin tak jauh dari orang-orang yang merasa dirinya paling benar, suci, dan bersih hingga berani melewati batas perannya sebagai manusia. Seolah hakim bagi yang tak seiman, seolah sempurna benar bagi yang tak sejalan?
Pada bab Gincu misalnya. Penulis menggambarkan agama yang mengajarkan kebijaksanaan dan kearifan sering dimanipulasi untuk dijadikan 'alat' pewujud kepentingan perorangan atau kelompok tertentu dengan mengklaim bahwa jalannya lah yang paling benar sehingga berhak merasa superior dari kelompok atau orang yang tak sejalan dengannya. Ekstremnya hingga merasa memiliki hak untuk megkapling-kapling surga dan membagi-bagikan neraka bagi orang yang dianggapnya salah. Toh, kalau pun si orang itu salah, emang siapa dia kok bisa-bisanya tau siapa yang bakal masuk neraka dan siapa yang akan dijebloskan ke syurgha? Anda panitia keakhiratan atau asisten pribadi Tuhan sih?
Di buku ini kurang lebih ada 28 bab dengan judul yang sangat familiar di kehidupan sehari-hari. Hampir disetiap bab ada lukisan abstrak hitam putih yang tidak jauh-jauh dari pewayangan karena selain menulis buku Sujiwo Tedjo juga seniman dan budayawan. Jika kita telisik lagi, banyak rangkaian kalimat di buku ini mengandung kritik.
Yang menarik lagi dalam buku ini penulis berulang kali menyematkan maksud "Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya" dengan cara yang berbeda disetiap babnya. Aku jadi teringat hadis kudsi yang pernah aku baca di buku lain. Kalimat ini juga menurutku tak beda jauh dengan quotes populer seperti "Be yourself!".
Penulis menulis bahwa diri kita sendirilah manifestasi Tuhan. Mengenali Tuhan berarti menyatu dengan-Nya. Menyatu dengan Tuhan berarti merefleksikan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan. Dimana kita dapat mengenal Tuhan melalui tiap-tiap diri manusia, namun diri yang dimaksud disini adalah diri yang fitrah bukan diri yang telah di masuki konsep-konsep yang terbentuk dari masyrakat atau dari luar diri itu sendiri.
Adapun pemahaman si penulis mengenai Tuhan, yaitu dimana Tuhan merupakan sesuatu yang mendominasi diri, untuk itu dalam memahami Tuhan, setiap manusia harus masuk kedalam dirinya sedalam dalamnya maka baru bisa kita pahami, karena Tuhan merupakan imateril maka Tuhan tidak dapat ditangkap menggunakan akal, namun kita bisa menangkapnya menggunakan hati nurani.
Note :
Bagi orang yang sedang mencari dan ingin membaca buku yang menyenangkan dan menghibur. Bagi saya buku ini tidak direkomendasikan. Banyak dari reviewer yang berseliweran di dunia maya mengasumsikan bahwa bahasa yang digunakan dalam buku Tuhan Maha Asyik ringan karena dikemas dalam cerita anak-anak, memang benar. Tapi bagi orang yang pertama kali ingin mencintai buku, pembahasan dalam buku ini cukup berat dan memeras otak. Namun, bagi orang yang masih awam mengenai makrifat dan tauhid dan sedang belajar mengenal Tuhan secara holistik. Buku ini sangat disarankan untuk dibaca karena analogi-analogi yang dijabarkan dan peristiwa yang diangkat tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah untuk dipahami.

Komentar
Posting Komentar